Jenis-Jenis Bias Kognitif (Cognitive Bias) dan Definisinya

Setelah lama tidak update artikel blog, akhirnya saya berkesempatan untuk meng-update blog tercinta ini. Kali ini saya akan membahas tentang Bias Kognitif (Cognitive Bias). Bias kognitif bisa mempengaruhi kita dalam mengambil suatu keputusan. Bisa jadi keputusan yang diambil tidak sesuai dengan logika akal sehat. Mungkin memang menyerempet ke domain psikologi, tapi entah kenapa saya ingin membahas hal ini.

Menurut wikipedia Bias Kognitif memiliki pengertian sebagai berikut:

Pola sistematis penyimpangan dari norma atau rasionalitas dalam penilaian, dimana penilaian terhadap orang lain dan situasi menjadi sesuatu yang tidak masuk akal. Individu membuat sendiri "realitas sosial subjektif" berdasarkan persepsi dan masukan (info) yang mereka peroleh. Hal ini dapat mempengaruhi kebiasaan mereka di dunia sosial. Maka dari itu, bias kognitif bisa menyebabkan distorsi persepsi, penilaian yang tidak akurat, interpretasi yang tidak logis atau tidak masuk akal.

Gimana, sudah mudeng dengan arti bias kognitif (Cognitive Bias)? Kalo saya belum mudeng, hehe. Nah, untuk memperjelas ada baiknya jika kita mengenal beberapa bias kognitif. Berikut ini adalah bias-bias kognitif yang dapat mempengaruhi bahkan meracuni logika kita dalam mengambil keputusan:
Penjelasan dan pengertian Tentang Bias Kognitif (Cognitive Bias) dan jenis-jenisnya

Anchoring Bias (Efek Jangkar)

Biasanya orang akan sangat percaya dan bergantung pada informasi yang mereka dapat pertama kali. Contoh gampangnya, ketika kita ingin membeli mobil/motor bekas. Pasti yang yang dilihat pertama kali adalah jumlah kilometer yang telah ditempuh (odometer). Padahal, jumlah odometer bukan parameter utama suatu mobil bekas bagus atau tidak. Tapi dilihat juga mesinnya, terawat atau tidak. 

Contoh lain, saat kita negoisasi jumlah gaji saat melamar kerja. Saat HRD menyebutkan nominal gaji pertama kali. Maka sang pelamar secara otomatis akan menganggap nominal gaji yang disebut HRD tersebut sudah pantas.

Availability Heuristic

Biasanya orang hanya percaya secara berlebihan pada informasi yang didapat dari lingkungan sekitarnya saja. Misalnya percaya jika siluman kolor ijo dapat diusir dengan daun kelor. Padahal kolor ijo belum tentu ada. Contoh lain, seorang perokok yang merasa bahwa merokok itu tidak mengganggu kesehatan. Ternyata sang perokok mendapatkan info bahwa mbahnya yang perokok berat baru meninggal pada usia 99 tahun. Padahal sudah jelas jika rokok dapat merusak kesehatan.

Bandwagon Effect

Nah, ini efek yang sering terjadi di sekitar kita. Misalnya di suatu kota sedang ngetren dengan fashion celana dengan resleting setengah terbuka. Karena banyak yang memakai celana tersebut, banyak individu yang terpengaruh dan ikut-ikutan. Contoh lain adalah tren batu akik. Karena banyak yang make akik, individu yang tadinya tidak tertatarik jadi tertarik dengan batu akik.

Blind-spot bias 

Blind-spot bias adalah bias kognitif mengakui dampak bias pada penilaian orang lain, gagal untuk melihat dampak dari bias pada penilaian sendiri. Contohnya, misalnya anda melakukan test IQ, ternyata IQ anda rendah. Anda merasa tidak percaya dengan hasil tersebut. Kemudian anda melakukan test IQ lagi di tempat lain dan ternyata hasilnya IQ anda lebih tinggi, meskipun testnya kurang valid.

Choice-supportive Bias

Ketika orang memilih sesuatu, orang cenderung memberi nilai positif terhadap pilihannya tersebut. Contohnya, anda telah membeli Smartphone dengan merk tertentu. Anda akan merasa smartphone pilihan anda tersebut sudah sangat sempurna untuk anda. Padahal smartphone pilihan anda bisa jadi memiliki banyak kekurangan.

Clustering Illusion

Kecendrungan untuk melihat pola dalam suatu kejadian yang acak. Misalnya seorang penjudi yang merasa bisa meprediksi pola-pola yang akan terjadi dalam permainan dadu.

Confirmation Bias

Adalah kecendrungan orang untuk mendukung informasi yang menegaskan keyakinan atau hipotesis mereka. Contohnya begini, anda telah memberi barang, misalnya smartphone A dengan harga dibawah pricelist di toko. Tentu anda akan bangga karena bisa menawar harga lebih murah. Kemudian anda pergi/mengecek perbandingan harga Smartphone A ke toko lainnya untuk memastikan harga smartphone yang anda dapatkan sudah pantas.

Conservatism Bias

Ketika orang lebih percaya theory lama ketimbang theory baru. Contohnya, dulu orang percaya teori jika bumi itu datar. Namun setelah adanya perkembangan sains, ternyata bumi itu bulat. Namun waktu itu tidak semua orang langsung mempercayai teori baru yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Gampangnya, orang yang sudah percaya pada suatu teori akan sulit jika harus menerima teori baru yang bertentangan.

Information Bias

Kecendrungan untuk mencari informasi yang sudah jelas-jelas tidak akan mempengaruhi/mengubah suatu kejadian. Contohnya, seorang manajer menyewa konsultan untuk melakukan studi pasar padahal laporan pihak ketiga sudah tersedia dengan biaya jauh lebih sedikit.


Ostrich Effect

Kecendrungan untuk menghindari masalah atau situasi yang berat. Misalnya, banyak mahasiswa yang lama sekali menyelesaikan skripsi dikarenakan takut konsultasi ke dosen.

Outcome Bias


Overconfidence Bias

Terlalu percaya diri dapat beresiko buruk pada kehidupan kita.

Placebo Effect Bias

Kecendrungan orang percaya pada sesuatu hal yang dapat memberikan efek tertentu. Pada bidang kedokteran misalnya. Jika ada pasien yang diberi obat, dan si pasien sudah diberi sugesti bila obat tersebut dapat menyembuhkan penyakit. Maka secara psikologis si pasian akan merasakan obat tersebut memberikan efek kesembuhan pada dirinya. Padahal obat tersebut kosong dan tidak berkhasiat apa-apa.

Pro-Innovation Bias

Misalnya ada suatu produk elektronik yang mempunyai fitur tertentu. Produsen akan melebih-lebihkan fitur yang dimiliki produk elektronik tersebut dan menyebunyikan keterbatasan yang dimiliki.

Recency Bias

Kecendrungan untuk lebih mempercayai data-data terbaru sebagai patokan dibanding data-data yang lama. 

Salience Bias

Adalah kecenderungan untuk menggunakan sifat-sifat yang tersedia untuk membuat penilaian tentang seseorang atau suatu situasi. Menilai seseorang atau sesuatu hanya daria yang nampak/luarnya saja.

Selective Perception Bias

Stereotyping Bias

Kecendrungan untuk menduga-duga kualitas dan sifat sebuah grup atau perseorangan tanpa bertemu secara langsung atau memperoleh informasi yang benar.

Survivorship Bias

Kecendrungan untuk berpatokan misalnya hanya pada kisah-kisah sukses. Contohnya, kita telah mendengar banyak kisah wirausahawan/pengusaha sukses. Sehingga kita berpikir jika menjadi seorang wirausahawan itu mudah. Padahal banyak juga wirausahawan yang gagal. 

Zero-risk Bias

Kencendrungan untuk menyukai pilihan yang bebas resiko. Padahal untuk menjadi lebih maju kita harus menghadapi tantangan yang lebih berat. Kecendrungan seperti ini menyebabkan kita tidak maju dan tidak produktif.

Oke itulah beberapa bias kognitif yang mingkin bisa mempengaruhi kita dalam mengambil suatu keputusan. Bias-bias tersebut bisa membuat kita salah menilai sesuatu/seseorang. Sebenanya banyak sekali bias-bias kognitif. Mungkin kedepannya akan saya update listnya.

Refrensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Cognitive_bias
http://scientificliteracymatters.com/2015/10/infographic-20-cognitive-biases/
http://rationalwiki.org/wiki/List_of_cognitive_biases

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home