Tentang Dunning-Kruger Effect, Orang bodoh yang tidak menyadari jika dirinya bodoh - NAW_32
News Update
Loading...

Wednesday, July 29, 2015

Tentang Dunning-Kruger Effect, Orang bodoh yang tidak menyadari jika dirinya bodoh

Alhamdulillah, kali ini bisa update blog juga. Agak kepaksa juga sih, supaya blog ini tetap terjaga kelanggengannya. Artikel kali ini saya ingin membahas fenomena yang agak nyrempet ke masalah psikologi. Ya walaupun psikologi bukan bidang saya, tapi saya akan menjelaskan sesuai dengan wawasan yang saya punya. Oke langsung saja, pernahkah anda bertemu dengan orang bodoh, tapi karena saking bodohnya orang ini tidak sadar kalau dirinya bodoh? Saya yakin anda akan jengkel jika ketemu orang model begini. 

Pada tahun 1999, psychologist David Dunning dan Justin Kruger menerbitkan sebuah jurnal ilmiah berjudul “Unskilled and unaware of it: how difficulties in recognizing one’s own incompetence lead to inflated self-assessments." Yang saat ini lebih populer disebut dengan efek Dunning-Kruger. Jurnal ilmiah tersebut menyatakan bahwa ada orang yang sebenarnya tidak berkompeten dalam bidang tertentu, tapi dirinya merasa berkompeten pada bidang tersebut melebihi orang lain. Pada individu dengan Dunning-Kruger Effect akan merasa bahwa dirinya mempunyai kemampuan/ pengetahuan yang lebih tinggi dari orang-orang sekitarnya, padahal tidak. Mereka tidak menyadarinya dan merasa percaya diri padahal sebenarnya mereka dibawah rata-rata.

Intinya, definisi Dunning–Kruger effect adalah bias kognitif dimana seseorang dengan skill/kemampuan yang biasa saja atau cenderung dibawah rata-rata, namun merasa dirinya memiliki kemampuan/skill yang hebat. Efek ini sering terjadi pada seseorang dengan kemampuan rendah (low-Ability) yang mana secara objektif kurang bisa untuk mengenali, menilai dan mengevaluasi kompetensi yang yang ada pada dirinya sendiri.

Kebanyakan fenomena efek Dunning-Kruger terjadi pada individu yang mempunyai kecerdasan dibawah rata-rata (low-ability). Mungkin karena mereka saking bodohnya sehingga tidak menyadari kalau sebenarnya mereka dibawah rata-rata. Efeknya orang-orang seperti ini akan terlihat sok pintar, tapi pendapatnya sangat mudah dipatahkan. Tapi tidak hanya pada individu dibawah rata-rata, kadang Dunning-Kruger Effect juga bisa terjadi pada individu yang baru saja mempelajari suatu kompetensi atau pengetahuan baru. Misalnya, ada individu yang baru saja mempelajari cara deface halaman web. Walaupun cuma bisa deface halaman web, tapi sudah merasa menjadi hacker yang hebat.



Jujur saja saya pun pernah hampir mengalami Dunning-Kruger Effect. Hal ini terjadi pada tahun 2011 ketika pertama kali saya mempunyai smartphone android yang memiliki kamera. Karena pada smartphone ini bisa menghasilkan jepretan gambar yang bagus. Seolah-olah saya merasa menjadi photographer yang hebat. Padahal skill fotografi saya tidak ada. Dan dengan percaya diri saya menambahkan tulisan "NAW Photography" pada setiap photo yang saya upload di media sosial. Tapi alhamdulillah, saya cepat introspeksi diri dengan membandingkan hasil foto saya dengan hasil foto para fotografer profesional. Ternyata saya memang tidak ada bakat di fotografi.
Dunning-Krugger Effect
Dunning-Krugger Effect

Nah, mari kita tengok grafik diatas. Sangat menarik untuk dibahas. Kita misalkan pada dunia IT. Ada seorang individu (A) yang sama sekali tidak mempunyai skill bahasa pemrograman komputer. Namun si A mendapatkan tutorial mengenai cara nge-hack tampilan website orang lain (deface) di internet. Kemudian si A dengan kepercayaan diri yang tinggi merasa bahwa dirinya sudah ahli di bidang komputer. Merasa layak disebut dengan hacker. Hal ini terjadi karena si A belum pernah bertemu dengan orang yang lebih hebat dari dirinya.

Kemudian ada individu (B), seorang programer Java yang sudah cukup berpengalaman dalam membuat aplikasi android. Namun karena si B sudah tahu jika pemrograman Java itu susah. Dan si B juga sering bertemu dengan programer java yang lebih hebat dari si B. Maka Si B tidak mau menyebut dirinya seorang master pemprograman Java. Namun tetap percaya diri dengan kemampuannya karena sudah banyak membuat aplikasi berbasis Java.

Kemudian ada lagi individu C, si C ini menguasai banyak bahasa pemrograman komputer seperti Java, PHP, c, C++, C#, Python, SQL, Javascript, dan Visual basic .net. Dan si C mempunyai pengalaman seabreg di bidangnya (expert) dan saat ini bekerja sebagai programer utama di google. Melihat hal ini, tentu si C akan merasa lebih percaya diri bila bertemu si B. Ini wajar karena skill si C memang lebih mumpuni. Tapi si C tidak merasa paling hebat di bidang komputer karena sadar jika diatas langit masih ada langit.

Secara garis besar grafik Dunning-Kruger diatas adalah. Ternyata orang yang tidak mempunyai skill pada bidang tetentu. Atau hanya tau sedikit-sedikit saja cenderung merasa percaya diri seolah-olah skillnya lebih baik dari orang lain. Padahal sesuai kata pepatah, padi semakin berisi semakin merunduk.

Lastly, Fenomena Dunning-Kruger Effect ini memang agak unik sih. Dimana ada individu di bawah rata-rata yang merasa bahwa kemampuannya diatas orang lain (sok pinter). Dan mereka tidak sadar kalau kemampuannya dibawah rata-rata. Banyak yang bilang orang bodoh yang tidak sadar kalu dirinya bodoh. Tapi bukan hanya orang bodoh saja yang bisa kena Dunning-Kruger Effect.

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Dunning%E2%80%93Kruger_effect
http://theness.com/neurologicablog/index.php/lessons-from-dunning-kruger/
http://psycnet.apa.org/?&fa=main.doiLanding&doi=10.1037/0022-3514.77.6.1121

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done